Friday, January 20, 2017

Lamp Petromax dan Si Fatimah dari PSP


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(Menyimak info sekitar Lamp atau Lampu Petromax
dan Si Fatimah dari PSP)
_____________________________________________________















__________________

Kata Pengantar
__________________

Setelah membaca tulisan mengenai petromax di blog Mbak
Brilian Sekartaji, saya menjadi mendapat ide untuk
menuliskan tentang sejarah lampu petromax yang mungkin
ada diantara teman ngeteh belum mengetahuinya. Dahulu,
saya pernah mendongengkan cerita ini kepada adik saya.

Demikian kata pengantar, Pengantarnya Ade bayu yang
memang nama sebenarnya mengantar kata, kata-kata
pengantarnnnya, tentang Petromax.

Para kawan sekalian...!

Adapun kata penganatar penulis, sbb :

Si Fatima dari PSP adalah seorang jande yang sangat
cantik, matanya bersinar bagaikan Sinar lampu Petromax

...dan...dan...dan.....

Musik...!



















_________________________________________

Sekilas info tentang Lampu Petromax
_________________________________________










Kebanyakan orang yang berusia 20 tahun keatas sudah
mengetahui bagaimana bentuk lampu petromax itu. Lampu
ini sangat populer pada jaman listrik belum begitu
merata dulu.

Sayapun juga pernah mengalaminya, sewaktu hidup di
desa, lampu petromax adalah pengganti utama penerangan
saat listrik tiba-tiba padam atau tegangannya turun.

Kaum muda yang ikut kegiatan ke-Pramuka-an, PMR,
atau pecinta alam-pun pada umumnya juga mengetahui
apa dan bagaimanakah lampu petromax itu. Namun
bagaimanakah lampu itu disebut petromax?










Sebenarnya, Petromax adalah nama sebuah merek dagang
(brand) dari sebuah lampu berbahan bakar minyak
bertekanan. Bahan bakar tersebut bisa berupa kerosin,
parafin, atau spirtus. Lampu ini ditemukan pertama
kali oleh Bapak Max Graetz, yang mempunyai nama
panggilan “Petrol-Max” pada masa kecilnya. Dari
nama ini pula, kata “petromax” digunakan.

Untuk memahami cara kerjanya, tentu teman ngeteh
pernah mendapati besi yang menyala merah saat dibakar.
Begitupun dengan logam yang dibakar, akan mengeluarkan
nyala membara. Namun bagaimana dengan bahan bukan logam?

Kita dapat amati bersama bahwa arang, tanah liat (bakal
batu-bata atau keramik), dan batu-pun akan menyala jika
dibakar atau dikenai panas yang cukup untuk membuatnya
dalam keadaan seperti itu. Ternyata, bahan keramik/batu
bata inilah yang cukup murah untuk bisa diproduksi masal.











Kemudian, Pak Gratez melakukan analisa. Untuk panas yang
sama, batu bata yang besar (luas permukaannya besar)
akan dapat memberi penerangan lebih daripada batu bata
yang kecil (luas permukaannya kecil). Kemudian, untuk
membakar 10 buah batu bata, tentu membutuhkan panas
(energi kalor) yang lebih daripada untuk membakar 1
buah batu bata. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin
besar beratnya, makin membutuhkan bahan bakar. Oleh
karena itu dibutuhkan permukaan seluas-luasnya untuk
memberikan penerangan sebesar-besarnya, namun
diperlukan berat sekecil-kecilnya agar hemat bahan
bakar.











Pak Gratez sempat berpikir, gimana caranya itu,
tidaklah mungkin memasang batu bata pada petromax.
Maka dari itu, dilakukanlah percobaan dengan bahan-bahan
seperti bahan bakar batu-bata, mirip bahan bakar keramik,
untuk membuat kedua syarat tersebut (berat sedikit,
permukaan luas) terpenuhi. Maka dihasilkanlah sebuah
kaus yang berupa jaring-jaring keramik tertentu seperti
yang kita lihat sekarang itu.










Kaus tersebut adalah campuran dari oksida-oksida logam
yang mirip sekali dengan kandungan tanah liat, namun
dengan resep tertentu yang kemudian dipatenkan Pak
Graetz. Sedikit detilnya, saat itu bahannya berupa
campuran thorium oksida, magnesium oksida, dan cerium
oksida.

Kembali pada yang telah kita ketahui bersama tadi, kaus
ini jika diberi panas yang cukup akan membara dan memberi
penerangan. Tentu saja, semakin besar panas yang diberikan,
semakin terang pula kaus itu menyala. Bagaimana menyediakan
panas yang sebegitu besar itu? Jika dibakar dengan cara
biasa saja tentu saja tidak cukup, akan sama saja
terangnya dengan lampu minyak bakar. Kemudian Pak Gratez
menyadari bahwa bahan bakar yang diuapkan dapat
menghasilkan panas yang lebih besar daripada bahan
bakar dalam bentuk minyak apabila dibakar.

Tapi bagaimana mendapatkan bahan bakar itu dalam bentuk
uap? Apakah dipanaskan biasa? Salah-salah yang ada
malah meledak teman-teman.

* Kaus Petromax









Kemudian Pak Graetz berpikir lagi, tangki ditaruh di
bagian bawah, kemudian minyaknya dipanaskan di atas.
Agar bisa membawa minyak ke atas. Pak Graetz kemudian
menyedikan pipa sempit menuju ke atas. Harapannya,
nantinya minyaknya dipanaskan sedikit-sedikit di atas
agar menjadi uap sehingga tidak malah meledakkan
persedian minyak. Lalu, agar minyak bisa mengalir ke
atas, perlu didorong oleh sesuatu yang sifatnya
terus menerus (kontinu). Cara yang paling efektif
adalah dengan memberi tekanan pada tanki tersebut,
sehingga minyak bisa terdorong keluar melalui pipa.

Prinsip ini mudahnya bisa dilihat dari penjual-penjual
mie goreng keliling yang memakai kompor minyak tanah
berpompa. Cara kerja pompa ini mirip seperti itu,
tujuannya untuk mengalirkan minyak ke atas, kemudian
dibakar. Itulah mengapa, kakek sering sesekali memompa
petromax karena makin lama, tekanan di dalam tanki
akan berkurang karena dipakai meniup bahan bakar ke atas.










Apa yang terjadi setelah bahan bakar sudah mengalir
ke atas? Kembali ke tujuan semula, bahan bakar tersebut
dipanaskan agar menjadi uap, sehingga apabila dibakar
bisa menghasilkan panas yang besar untuk memanaskan
kaos petromax sehingga menyala terang. Sebentar,
adik saya saat itu bertanya, “Bagaimanakah memanaskan
minyak itu?” Kemudian saya bertanya balik, “pernahkah
melihat kakek menuangkan spirtus di bagian atas petromax?
Yang kemudian setelah itu bagian atas petromax terdapat
api? yang kemudian setelah itu kakek memompa tangkinya?”
Dia hanya mengangguk, lalu saya menerangkan.









Itu adalah cara untuk memberi panas mula-mula supaya
ujung pipa tadi panas dan minyak menguap begitu keluar
pipa. Setelah panas cukup dan tekanan di tanki cukup
besar, bahan bakar disemprotkan dengan membuka katup
petromax. Begitu minyak keluar pipa di atas, seketika
itu berubah menjadi uap, dan uap itu akan terbakar dengan
tersemprotkan ke kaus tadi. Kaus tadi akan mendapat panas
cukup besar, lebih besar daripada dibakar biasa sehingga
menyala sangat terang. Ujung pipa tadi sudah tidak
memerlukan panas siprtus untuk menguapkan minyak,
karena panas tadi sudah didapat dari siklus panas yang
dihembuskan ke kaus. Proses ini berjalan terus selama
tanki masih ada tekanan dan minyak serta kaus tidak rusak.
Kita mesti hati-hati, setelah kaus terbakar, kaus
tersebut menjadi beracun.

Demikian yang hendak saya ceritakan pada teman ngeteh
sekalian, mungkin ada yang sudah mengetahui, Pak Graetz
mendirikan perusahaan bernama Ehrich & Graetz di Berlin
yang kemudian berkembang menjadi “Graetz KG” (Graetz,
Limited ) untuk memproduksi merek petromax ini yang
berjaya di abad lalu. Kemudian, karena tidak mempunyai
penerus, beliau menjualnya ke SEL (Standard- Elektronik-
Lorenz AG), yang kemudian, SEL menjualnya ke Nokia yang
kemudian menghentikan produksinya pada tahun 1970. Kini
lampu minyak bertekanan ini diproduksi dimana-mana.










Dalam menuliskan ini, saya juga menjadi ingat ada grup
Orkes melayu Pancaran Sinar Petromak (OM PSP) yang berjaya
di akhir paruh dekade 70-an. Terutama lagu Duta Merlin.

Lagu yang ringan, yang menunjukkan kesenjangan sosial
dan dimulainya era kapitalisasi spasio-stemporal di
Jakarta pada lokasi-lokasi tertentu di masa itu.


_____________

Penutup
_____________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

...dan,,,

Selamat malam...!

































________________________________________________________
Cat :
Starklichtlampe „HK 500“ von Petromax - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=muq64gD-fOI&t=327s
Lighting the Petromax HK500 Paraffin Lamp - YouTube
How to light Petromax HK500_HK150 ??????? - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=WcgPVRIEFPo


No comments:

Post a Comment